Awal Mula Kehadiran Grand Prix

Awal Mula Grand Prix

Awal Mula Grand Prix Sepeda Motor (atau GP Motor) merupakan seri kejuaraan balap motor kelas penting yang dipertunjukkan di circuit jalanan yang disepakati dan ditata oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM). Beberapa tempat balap sepeda motor berdiri sendiri udah diadakan sejak mulai awalnya masa ke-20[1] dan banyak tempat besar nasional mendapati nama Grand Prix.[2] Pendirian Fédération Internationale de Motocyclisme menjadi induk organisasi balap motor sedunia tahun 1949 memberi peluang untuk mengkoordinasikan peraturan dan aturan hingga tempat itu dipilih menjadi Kejuaraan Dunia sah. Ini merupakan kejuaraan dunia balap motor paling tua sejauh histori.[3]

Sepeda motor Grand Prix didesain privat untuk balapan, tak dipasarkan ke orang umum dan, secara hukum, tidak boleh dikemudikan di jalan umum. Soal ini tidak sama dengan misalkan, Kejuaraan Dunia Superbike dan Isle of Man TT yang memanfaatkan sepeda motor biasa yang diubah. Kelas paling tingginya merupakan MotoGP sejak mulai 2002 waktu waktu mesin empat gak mulai tumbuh. Awalnya, kelas paling tingginya merupakan 500 cc, ke-2 nya jadi penerus histori menjadi Kejuaraan Dunia sah, biarpun seluruh kelas miliki posisi sah.

Sekarang ini Grand Prix Sepeda Motor terdiri jadi empat kelas: MotoGP, Moto2, Moto3, dan MotoE. Tiga yang pertama ini memanfaatkan mesin empat gak, sedang MotoE (baru memulai 2019) memanfaatkan sepeda motor listrik.

Dalam histori Grand Prix, juara tersuksesnya merupakan Giacomo Agostini dengan 15 gelar dan kemenangan 122 balapan. Di seri paling tingginya Agostini raih delapan rekor gelar, susul rider aktif Valentino Rossi dengan 7 gelar dan Marc Márquez dengan 6 gelar. Per 2019, Rossi raih 89 kemenangan balapan di kelas paling tingginya.

1949 hingga sampai 1970
Kejuaraan dunia untuk balap motor pertama kalinya dipertunjukkan oleh Fédération Internationale de Motocyclisme (FIM), di tahun 1949. Di waktu itu secara tradisionil udah dipertunjukkan sejumlah balapan di setiap even untuk beragam kelas motor. Berdasar kemampuan mesin, dan kelas untuk sidecars (motor bersespan). Kelas-kelas yang ada waktu itu merupakan 50 cc, 125 cc, 250 cc, 350 cc. Dan 500 cc untuk motor single seater, dan 350 cc dan 500 cc untuk motor sidecars. Masuk tahun 1950-an dan sejauh 1960-an, motor bermesin 4 gak mengendalikan semua kelas. Di akhir 1960-an, motor bermesin 2 gak mulai kuasai kelas-kelas kecil.
1970 hingga sampai 2000
Di tahun 1970-an motor bermesin 2 gak sungguh-sungguh menghalau mesin-mesin 4 gak. Di masa ini sejumlah motor seperti Kawasaki H1-R, MV Agusta 500 Three, menunjuk memanfaatkan mesin dua cara tiga silinder. Dengan motor tiga silinder nya, MV Agusta berhasil memboyong juara dunia rider dalam bentang 1966 – 1973. Beberapa tahun awalnya, MV Agusta pun berhasil dengan motor empat silinder nya sejak mulai 1956 – 1965 lewat pembalapnya John Surtees. Gary Hocking dan Mike Hailwood. Penentuan mesin tiga silinder kebanyakan didasari untuk mendapati berat yang enteng. Sehingga bisa menjalankan belokan lebih semakin cepat dan peroleh hasil kwalifikasi yang lebih bagus
Di tahun 1979, Honda usaha kembalikan mesin 4 gak di kelas pucuk dengan turunkan motor NR500. Tetapi project ini tidak sukses. Dan di tahun 1983 Honda bisa mencapai kemenangan dengan motor 500 cc 2 gak punyanya. Di tahun 1983, kelas 350 cc selanjutnya dihapus. Kelas 50 cc selanjutnya diganti oleh kelas 80 cc di tahun 1984. Akan tetapi kelas yang kerap dikuasai oleh rider dari Spanyol dan Italia ini selanjutnya ditiadakan di tahun 1990. Kelas sidecars pun ditiadakan dari kejuaraan dunia di tahun 1990-an, tersisa kelas 125 cc, 250 cc, dan kelas 500 cc.
Di waktu 1997-an waktu beberapa motor Grand Prix 500 memanfaatkan mesin empat silinder. KR3 Modenas tertera menjadi salah satu club sekalian pabrikasi masih yang memanfaatkan mesin tiga silinder. Sayang s/d hadirnya waktu 4-tak mesin tiga silinder KR3 tak dapat banyak berbuat, lantaran kalah power dengan mesin empat silinder. Walaupun di lain bagian peroleh keuntungan dari sisi berat.