Kisah Sejarah Dibalik Keindahan Air Terjun

Air Terjun Dalam Negeri

Kisah Sejarah Dibalik keelokan air terjun Tumburano di Dusun Tambaone, Kecamatan Wawonii Utara, Kabupaten Konawe Kepulauan, simpan cerita asmara yang dikisahkan semenjak jaman kuno.

Kabarnya, air terjun yang mempunyai dua jenjang itu, pernah jadi saksi cinta sepasang pemuda namanya Duru Balewula dan pacarnya Wulangkinokooti.

Air terjun ini, dapat diraih seputar 2-3 jam perjalanan dari Wawonii. Sebagian besar masyarakat disitu tahu jika ada pendatang yang bertanya kehadiran air terjun legendaris itu.

Posisinya ada ditengah-tengah rimba. Salah satunya tebing air terjunnya, mempunyai wujud seperti atap rumah yang warna kecoklat-coklatan. Air terjun ini, mempunyai dua tingkat tebing. Tiap tebing, mempunyai saluran air yang deras sejauh musim.

Tempat turunnya air dari ke-2 tebing, jadi spot favorite beberapa pendatang dan warga lokal Konawe Kepulauan. Tiap akhir minggu, posisi ini sering jadi tempat wisata favorite masyarakat.

Salah seorang pengunjung, Alief UKS menjelaskan, posisinya cukup bagus waktu ada di air terjun. Tetapi, keelokan itu sesuai dengan perjuangan pengunjung waktu lewat lajur ke arah posisi.

“Untuk melepaskan capek dari capek bekerja, benar-benar sangat pas. Tetapi, kami mengharap jalannya ke arah posisi lebih bagus kembali nanti,” tutur Alief.

Sekarang ini, air terjun yang telah populer sampai ke beberapa pelancong nasional itu adalah rekreasi unggulan Konawe Kepulauan. Pemerintahan di tempat mulai membuat beberapa sarana simpatisan di seputar air terjun Tumburano.

Cerita Ironis di Tumburano
Air terjun Tumburano di Wawonii kabupaten Konawe Kepulauan, mempunyai riwayat dan keelokan unik.

Air terjun Tumburano di Wawonii kabupaten Konawe Kepulauan, mempunyai riwayat dan keelokan unik.
Seorang masyarakat yang ditugasi jaga posisi air terjun Tumburano, Rustam bercerita, air terjun itu mempunyai ketinggian seputar 80 mtr.. Jaman dulu, di pucuk gunung di atas air terjun, adalah tempat nenek moyang warga Wawonii menetap.

“Disitu, pernah sepasang pacar akhiri hidupnya sebab cinta mereka tidak disetujui,” cerita Rustam.

Dikisahkan, Duru Balewula adalah seorang lelaki, sedang Wulangkinokooti adalah pacarnya. Kabarnya, Wulangkinokooti mempunyai kecantikan yang tidak tertandingi sampai pada akhirnya Duru Balewula langsung jatuh hati waktu pertama berjumpa.
“Menurut narasi, Wulangkinokooti ini kulitnya putih sekali. Jika dia makan sirih, dapat terlihat di lehernya saat dia menelan sirih itu,” tutur Rustam.
Hari bertukar, cinta sepasang pacar itu rupanya tidak disetujui orangtua wanita. Karena itu, ke-2 orangtua wanita mulai cari langkah pisahkan ke-2 nya.
“Waktu itu, sang wanita diminta jaga kapas yang sesaat dijemur, sedang ke-2 orang tuanya pergi ke kebun,” lanjut Rustam.
Rupanya Wulangkinokooti lupa mengusung kapas waktu hujan turun sebab asyik menceritakan dengan Duru Balewula. Ke-2 orang-tua Wulangkinokooti murka dan bersumpah tidak memberikan restu jalinan ke-2 nya.
“Ada sumpah yang disampaikan ke-2 orang tuanya yang tidak memberikan restu jalinan mereka. Sebab sedih, sepasang pacar ini selanjutnya ngotot jatuhkan diri mereka ke air terjun itu,” tutur Rustam.